Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs YLSA.org

Loading

Kamu ada diYLSA

YLSA


Seminar dan Peresmian Kantor Baru SABDA

Ditulis oleh: Andreas Agus Budijanto*

Jika diukur dengan usia internet masuk ke Indonesia sejak awal tahun 90-an, perkenalan saya dengan SABDA sudah lama. Perkenalan itu berawal dari kebutuhan saya untuk mempelajari Alkitab sebagai bahan "sharing" kepada kaum muda di gereja saya. Sebagai orang awam yang waktu itu belum belajar teologi, saya merasakan bekal saya sangat kurang. Untuk itu, saya melakukan "browsing" untuk mencari topik-topik renungan, buku-buku, dan software Alkitab dengan menggunakan mesin pencari AltaVista.

Ya, pada pertengahan hingga akhir tahun 90-an, AltaVista masih menjadi mesin pencari utama di samping Yahoo!, dan Google belum menggurita seperti sekarang. AltaVista dan Yahoo! mengantarkan saya ke "link" yang menawarkan software gratis SABDA bagi yang membutuhkan. Lalu, saya meminta software SABDA untuk dikirim ke alamat saya. Software SABDA pertama kali saya terima dalam bentuk CD, dengan tulisan nama saya di permukaan keping. Ehm, sebuah sentuhan manis yang dilakukan para pengelola SABDA. Tanpa menunggu waktu, SABDA langsung saya "install" di komputer berukuran "gadjah" dengan spesifikasi canggih pada masa itu, prosesor Intel 486, RAM 64MB, hardisk 8 GB, dan Microsoft Windows 95.

Ajaib, SABDA ter-install dengan baik dan dapat menemani saya melakukan studi Alkitab. Saya senang dengan apa yang saya dapatkan itu dan selalu menganjurkan penggunaan software SABDA kepada teman-teman yang membutuhkan. Promosi SABDA saya lakukan dengan senang hati, mengingat prinsip yang dianut SABDA, "Anda terima gratis, bagikanlah dengan gratis pula". Meskipun ada software-software lain yang saya gunakan untuk studi Alkitab, saya terus menggunakan SABDA hingga kini. Keunggulan SABDA antara lain adalah terus di-update dengan penambahan fitur-fitur dan koleksi pustaka berbahasa Indonesia yang tak ternilai harganya.

Oleh karena itulah, saya merasa bersyukur Ibu Yulia mengundang saya untuk mengikuti Seminar "The World is Flat" yang disampaikan oleh Bp. Tjahjadi Rameli pada 14 Mei 2014 yang lalu, sekaligus peresmian penggunaan kantor baru Yayasan Lembaga SABDA. Pada "event" ini, saya mendapatkan permata-permata berharga yang sungguh sayang apabila saya simpan sendiri. Permata-permata itu, antara lain:

  1. Seminar "The World is Flat"

  2. Dunia sekarang sedang mengalami perubahan yang radikal. Ada lima kekuatan besar yang mengubah tatanan kehidupan seluruh manusia, salah satunya adalah teknologi informasi dan komunikasi. Kita menghadapi tantangan baru akibat efek globalisasi. Kita bisa terkoneksi, bekerja sama, dan sekaligus bersaing dengan miliaran penduduk bumi. Sementara itu, peranan negara semakin kecil. Dalam dunia yang "flat" ini, semua orang dianggap sama dan setara, hanya tingkat keahlian seseorang yang membedakan dan membuatnya menonjol. Persaingan jenis baru ini nyatanya telah menimbulkan banyak "korban" yang kehilangan pekerjaan, tetapi orang-orang yang menang akan mendapatkan hasil yang tak terkira banyaknya. Kunci untuk meraih kesuksesan di era ini ada tiga, yaitu orang harus memiliki keahlian pada lingkup tertentu (specialist), memiliki pengalaman yang luas (generalist) dan mampu terus-menerus beradaptasi, serta mau belajar dan berkembang (versatilist). Ketiga kunci itu harus digunakan bersamaan untuk membuka pintu sukses. Namun, di atas semuanya itu, kita harus menjadikan firman Tuhan sebagai terang bagi jalan kita karena sejak jatuh ke dalam dosa, pikiran manusia telah digelapkan oleh dosa.

  3. Kantor Baru SABDA

  4. Sekitar satu atau dua tahun yang lalu, saya mampir ke rumah Ibu Yulia yang sekaligus dijadikan kantor SABDA. Komentar pertama saya waktu itu, "Maaf, Bu, saya merasa seperti di rumah sendiri setelah melihat koleksi buku yang ada di rumah ini." Suami Ibu Yulia yang pada saat itu mendampingi Ibu Yulia hanya tertawa lebar. Komentar itu bukan sekadar basa-basi karena saya bisa mempertanggungjawabkannya. Ketika masih SD, saya sering membayangkan bahwa surga adalah tempat tersedianya banyak buku yang tidak akan habis saya baca. Sebab itu, saya senang pergi ke toko buku dan perpustakaan. Kantor SABDA kini masuk daftar "surga" saya yang baru setelah semua buku yang semula disimpan di rumah Ibu Yulia dipindah ke perpustakaan YLSA yang baru ini. Saya sangat senang ketika di acara peresmian kemarin, Ibu Yulia mengundang para rekan sekerja Tuhan di Solo dan sekitarnya untuk datang kapan saja ke Perpustakaan YLSA. Di tempat yang baru ini, para rekan dapat membaca dan menggunakan lebih dari 12.000 judul buku untuk bahan studi dan mempersiapkan khotbah/renungan. Para rekan juga dapat menggunakan fasilitas internet dengan bebas. Kantor SABDA juga dilengkapi dengan kamar-kamar yang disediakan bagi para rekan dari luar kota yang akan menginap. Menurut pandangan saya, kantor baru SABDA yang nyaman, representatif, dan berada di tengah kota Solo dapat menjadi batu pijakan yang besar bagi para staf dan pengurus Yayasan Lembaga SABDA untuk semakin semangat, kreatif, dan termotivasi dalam melayani Tuhan melalui "IT 4 God".

Itulah sebagian permata berharga yang saya temukan saat mengikuti seminar sekaligus peresmian penggunaan gedung kantor Yayasan Lembaga SABDA. Saya berharap ada seminar-seminar lanjutan dengan topik senada untuk memperlengkapi peserta seminar dalam menghadapi dunia yang terus-menerus berubah ini. Dengan demikian, saya punya alasan untuk mampir dan menikmati "surga" di kantor baru SABDA.

P.F: Selamat menempati kantor SABDA bagi segenap staf dan pengurus Yayasan Lembaga SABDA.

*Andreas Agus Budijanto, belajar dan mengajar di STT Sangkakala, Salatiga.

YLSA Dalam Pelayanan 121 Connectors

Ditulis oleh: Adiana

http://blog.sabda.org/2014/03/27/4828/

Percayakah Anda bahwa kemajuan teknologi saat ini telah memberikan banyak kesempatan kepada kita untuk menjangkau lebih banyak jiwa datang kepada Kristus? Ya, tentu saja! Beberapa lembaga dan perorangan, di Indonesia ataupun di luar negeri, telah melakukannya. Salah satunya adalah Network 211 < http://network211.com/ >.

Network 211 adalah sebuah yayasan penjangkauan misi dunia yang berfokus pada penginjilan global dan pemuridan lewat internet melalui situs JourneyAnswer.com. Yayasan ini didirikan oleh Dr. George M. Flattery sejak tahun 1998 dan situsnya telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di lebih dari 200 negara, termasuk Indonesia < http://teranghidup.com/ >. Network 211 ini bekerja sama dengan beberapa lembaga untuk menyatakan berita Injil abad pertama dengan menggunakan teknologi abad ke-21, yaitu melalui jaringan internet.

Mengapa internet? Saat ini, masyarakat abad ke-21 telah menjadi komunitas global dengan akses internet yang tidak terbatas, kapan saja dan di mana saja. Namun, di tengah segala kemajuan tersebut, ada begitu banyak orang yang sebenarnya sedang mengalami "kemunduran" karena berbagai macam permasalahan hidup yang belum terselesaikan. Mereka membutuhkan Pribadi yang dapat menjadi jawaban atas semua pergumulan mereka selama ini, dan tidak ada cara lain selain membawa mereka kepada Yesus Kristus. Dengan berkunjung ke JourneyAnswer.com, orang-orang yang membutuhkan pelayanan dapat mengirimkan surat elektronik (e-mail) dan membagikan pokok doa, pertanyaan, serta pergumulan hidup yang sedang dihadapi. JourneyAnswer.com menyediakan orang-orang yang bertindak sebagai konselor, disebut juga "connectors", yang akan menjawab surat-surat pengunjung, menolong, dan membimbing untuk semakin mengenal Yesus Kristus.

Lalu, apa yang dilakukan Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) berkaitan dengan pelayanan Network 211 ini? Surat-surat yang masuk ke situs Network 211 di Indonesia, yaitu TerangHidup.com, ternyata cukup banyak sehingga perlu bantuan dari pihak luar, yang bertindak sebagai "connectors", untuk ikut melayani dengan menjawab surat-surat tersebut. Karena itu, TerangHidup.com menghubungi YLSA dan berharap bisa berbagi beban untuk melakukan pelayanan ini bersama. Melihat visi pelayanan TerangHidup.com dan juga pentingnya surat-surat ini untuk direspons dengan baik, maka Ibu Yulia, selaku pimpinan YLSA, bersedia mengulurkan tangan. Dengan mengerahkan seluruh staf YLSA untuk menjadi "connectors", maka mulailah kami menjalin pelayanan bersama untuk menjawab surat-surat yang masuk di situs 121Connectors.com < https://121connectors.com/ >.

Sampai hari ini, sudah ada ratusan surat yang kami jawab. Dengan kemajuan perkembangan teknologi, orang-orang menjadi semakin familiar dengan pelayanan yang disediakan di internet, termasuk orang-orang yang memiliki berbagai macam pergumulan hidup. Mereka datang ke internet untuk mencari pertolongan, mulai dari permasalahan tentang kekhawatiran, kematian, sakit penyakit, keputusasaan, hingga hidup yang tanpa arti dan tujuan. Kesempatan melayani mereka merupakan kesempatan emas yang tidak ingin kami sia-siakan. Melalui pelayanan ini, kemampuan setiap staf dalam berkorespondensi dan memberikan pelayanan konseling juga ditantang agar terus maju. Puji Tuhan untuk berkat pelayanan ini.

Keterlibatan YLSA dalam pelayanan ini senada dengan kerinduan YLSA untuk mempersembahkan teknologi bagi kemuliaan nama Tuhan. Sebenarnya, selama ini YLSA juga telah menyediakan banyak bahan konseling untuk berbagai permasalahan hidup melalui situs C3I < http://c3i.sabda.org > dan milis publikasi e-Konsel < http://www.sabda.org/publikasi/e-konsel/ >. Ternyata, Tuhan memberi kami pelayanan bukan saja untuk menyediakan bahan, melainkan juga mempraktikkan bahan-bahan tersebut. Puji Tuhan, kerinduan untuk secara langsung menolong jiwa-jiwa yang haus akan kasih Kristus tersalurkan melalui pelayanan ini. Bersyukur pula karena melalui bahan-bahan yang sudah ada di situs-situs YLSA < http://katalog.sabda.org >, kami bisa diperlengkapi untuk merespons surat-surat yang masuk dengan lebih baik.

Bagi staf YLSA yang telah terlibat, silakan memberi kesaksian pengalaman teman-teman melayani sebagai "connectors". Saya yakin kesempatan berbagi ini dapat menjadi berkat bagi Sahabat dan Pendukung YLSA.

Komentar